Seputar Berita Terkini dan Terupdate SeIndonesia

Situs Bersejarah Libya Digerayangi Maling, Ditinggalkan Turis

Situs Bersejarah Libya Digerayangi Maling, Ditinggalkan Turis

Ampiteater di Cyrene, Libya

Jakarta, K24News Indonesia – Coretan graffiti terlihat menutupi dinding amffiteater Yunani di Cyrene, sebuah kota kuno yang hancur di timur Libya yang bertahan di tengah pengerusakan oknum tidak bertanggungjawab dan padatnya populasi pemukiman setempat.

Toko-toko souvenir dan kafe yang sepi di sepanjang situs berusia 2.600 tahun ini adalah satu-satunya pengingat bahwa kawasan ini dulunya merupakan objek wisata populer.

Penjarahan telah melanda situs-situs arkeologi Libya sejak penggulingan Muammar Gaddafi yang berujung kekacauan pada tahun 2011.

Cyrene adalah salah satu dari 5 situs Warisan Dunia UNESCO di negara Afrika Utara ini. Lainnya termasuk keruntuhan kota Romawi Leptis Magna, dan Sabratha, berada di barat Libya.

Lihat juga: Leeteuk ‘SUJU’ Akui ‘Deg-degan’ Bisa Duet Dengan Rossa

Terlepas dari Cyrene, sekitar 200 km di timur Benghazi terdapat situs Apollonia.

Dengan hilangnya turis serta pengelolaan situs dan benda bersejarah yang kekurangan anggaran, amfiteater di Cyrene menjadi incaran perusak dan penjarah.

Beberapa artefak bersejarah yang tertera dalam buku panduannya yang dicetak pada tahun 2011 tidak lagi ada.

“Banyak artefak telah diselundupkan ke luar negeri,” kata Ahmad Hussein, kepala Departemen Barang Antik dari pemerintahan paralel yang bertanggung jawab atas Libya timur.

Karena tidak dapat mencegah pencurian, departemennya telah mendaftarkan artefak sebagai barang resmi milik negara, dengan harapan dapat mencari keberadaannya yang kemungkinan telah menyebar di Eropa.

Sebelum tahun 2011 terdapat langkah perlindungan situs dan benda bersejarah di Libya. Namun usaha tersebut kini tidak lagi ada.

Penggalian situs dan benda bersejarah disini telah dilakukan sejak lama oleh penjajah dari Italia. Peralatan penggalian juga masih terlihat di beberapa kawasan.

Mereka terakhir melakukan penggalian pada tahun 1943 setelah kekalahan mereka atas Inggris.

“Ada banyak kehancuran dalam beberapa tahun terakhir,” kata Ismail Miftah, seorang petani yang tinggal di sebelah Cyrene.

“Saat ini orang-orang tidak lagi menghargai warisan kuno.”


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *