Seputar Berita Terkini dan Terupdate SeIndonesia

Polisi Sebut Benny Wenda Punya Jaringan di Eropa dan Afrika

Jakarta, K24news Indonesia — Kepolisian menyebut jaringan tokoh separatis Papua, Benny Wenda tersebar di Eropa, Asia Pasifik dan Afrika. Benny disebut menyebarkan berita-berita provokasi ke jaringannya tersebut.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo menuturkan Benny merupakan salah satu dalang yang memprovokasi kerusuhan di Papua dan Papua Barat. Provokasi dilakukan dengan menyebarkan konten berupa narasi foto dan video.

Lihat juga: Lantik Wali Kota Jakut, Anies Singgung Kawasan Pesisir

“Dia sebagai orang yang memprovokasi melalui konten-kontennya baik narasi-narasi foto, video, itu yang dia sebar di beberapa koneksinya mereka yang ada di Eropa, kemudian di kawasan Asia Pasifik maupun juga ada sebagian di Afrika,” ujarnya di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (4/9).

Dedi mengatakan pihaknya telah memantau jejak digital hasil pembicaraan, juga penyebaran konten-konten bernilai provokasi tersebut.

“Itu sudah dipantau untuk jejak digitalnya dari hasil pembicaraan, kemudian konten-konten yang berhasil disebar oleh yang bersangkutan kepada kelompok- kelompoknya,” tuturnya.

Lihat juga: Situasi Papua Kondusif, TNI Tetap Kawal Objek Vital

Sebelumnya, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menuding Benny Wenda sebagai dalang kerusuhan di Papua, termasuk melakukan mobilisasi diplomatik ke sejumlah negara.

Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto menuturkan Benny aktif menyebarkan hoaks alias informasi palsu soal Papua ke luar negeri.

Menurut pemerintah, Benny adalah tokoh separatis dan pendukung penggunaan kekerasan dalam mencapai tujuan politik memisahkan Papua Barat dari Indonesia.

Lihat juga: Belasan Warga Papua Sambangi Mapolda Metro Jaya

Sementara itu Benny menuding balik Wiranto tengah berupaya memicu konflik horizontal dengan warga Papua.

“Wiranto gunakan saya. Wiranto adalah penjahat perang yang dicari oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) karena kejahatan perang,” kata Benny melalui surat elektronik kepada CNNIndonesia.com pada Selasa (3/9).

Situasi Papua Kondusif, TNI Tetap Kawal Objek Vital

 

Jakarta, CNN Indonesia — Personel TNI sampai saat ini masih terus melakukan pengamanan terhadap berbagai objek vital yang ada di wilayah Jayapura, Papua.

“Personel TNI khususnya kita diletakkan di objek-objek vital, pengamanan objek vital,” kata Kapendam XVII/Cenderawasih Letnan Kolonel CPL Eko Daryanto saat dihubungi CNNIndonesia.com, Sabtu (31/8).

Lihat juga: Belasan Warga Papua Sambangi Mapolda Metro Jaya

Disampaikan Eko, pengamanan di objek vital itu tetap dilakukan meski saat ini kondisi di Jayapura sudah kondusif dan mulai kembali normal. Pengamanan itu, lanjutnya, sebagai langkah antisipasi jika nantinya aksi massa kembali terjadi.

“Kita antisipasi aksi-aksi, siapa tahu ada aksi susulan atau apa kita amankan,” ujarnya.

Eko mengungkapkan sejumlah objek vital yang dilakukan pengamanan yakni kantor Bank Indonesia di Papua, Pertamina, Kantor Gubernur, pelabuhan, bandara, menara telekomunikasi (BTS), dan sebagainya.

Kantor Dewan Adat Mbaham Matta seusai dibakar massa saat melakukan aksi di Kabupaten Fak – Fak, Papua Barat, Rabu (21/8).

Pengamanan objek vital itu, kata Eko, dilakukan oleh sekitar tiga SSK (satuan setingkat kompi) yang berasal dari Kostrad dan Marinir.

Di sisi lain, Eko menuturkan saat ini upaya pembersihan dampak kerusakan akibat aksi massa juga sudah mulai dilakukan oleh aparat kepolisian.

“Pembersihan dampak anarkis tadi dilakukan oleh kepolisian,” ucap Eko.

Lihat juga: DPR Sebut Pemerintah Belum Ajukan RUU soal Ibu Kota Baru

Sebelumya, kegiatan unjuk rasa yang berujung pembakaran sejumlah bangunan terjadi di Jayapura, Papua mulai Kamis (29/8) hingga Jumat (30/8) dini hari.

Dalam aksi itu, massa diketahui melakukan pembakaran sejumlah bangunan, mulai dari kantor Majelis Rakyat Papua (MRP), kantor Bea Cukai, kantor Telkomsel, kantor KPU dan sebagainya.

Terkait aksi itu, kepolisian telah menetapkan 30 orang sebagai tersangka.

Kondisi Jayapura pasca demo ricuh, tepatnya di depan Pasar Mama Mama Papua, Jumat (30/8).

“Ada 30 tersangka,” kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Papua Kombes Ahmad Mustofa Kamal saat dihubungi CNNIndonesia.com, Sabtu (31/8).

Adapun rinciannya adalah 17 orang ditetapkan tersangka dan dijerat dengan Pasal 170 ayat 1 KUHP atas dugaan pidana secara bersama-sama melakukan kekerasan terhadap orang atau barang. Sebanyak tujuh orang dijerat dengan Pasal 365 KUHP.

Satu tersangka dijerat dengan Pasal 187 KUHP atas tindak pidana pembakaran. Tiga orang dijerat dengan Pasal 160 KUHP dan dua orang dijerat dengan Pasal 1 UU Darurat nomor 12 tahun 1951 karena membawa senjata tajam.

Belasan Warga Papua Sambangi Mapolda Metro Jaya

Jakarta, CNN Indonesia — Belasan warga Papua mendatangi Mapolda Metro Jaya pada Jumat (30/8) malam.

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, belasan warga Papua itu tampak menunggu di depan pintu Mapolda Metro Jaya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta.

Sementara itu, belasan personel kepolisian juga tampak melakukan penjagaan. Bahkan, setiap kendaraan yang akan masuk ke area Mapolda diperiksa oleh anggota.

Lihat juga: DPR Sebut Pemerintah Belum Ajukan RUU soal Ibu Kota Baru

Belum jelas maksud dari kedatangan warga Papua di Mapolda Metro Jaya. Warga Papua yang berada di lokasi enggan menjelaskan maksud kedatangan mereka.

Namun, kedatangan warga Papua diduga berkaitan dengan kabar penangkapan sejumlah orang oleh pihak kepolisian yang tengah beredar.

Untuk mengkonfirmasi kabar penangkapan, CNNIndonesia.com telah mencoba menghubungi Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono. Namun, hingga kini belum ada konfirmasi terkait kabar penangkapan.

Dahsyatnya Banjir Bandang Sentani, Pesawat Terseret Dari Bandara ke Jalan

Pesawat Adventist

Pesawat Adventist Aviation Mission terseret karena banjir bandang di Sentani.

Hujan lebat diseratai guntur dan kilat yang terjadi malam itu.

Jakarta, K24News Indonesia – Sebuah pesawat milik Adventist Aviation Mission terseret hingga ke jalan raya karena banjir bandang Sentani, Jayapura, Papua, Sabtu (16/3) malam. Pesawat terseret karena hujan lebat diseratai guntur dan kilat yang terjadi malam itu.

Itu mengakibatkan banjir besar yang menghancurkan fasilitas umum seperti jalan raya, pertokoan, perkantoran, dan perumahan warga. Dari pantauan Jubi di lapangan, mulai dari Kampung Doyo Baru hingga Pasar Lama Sentani, semua fasilitas umum rusak parah, puluhan unit kendaraan terdampar di jalan raya.

Jalan raya dipenuhi lumpur, dan sisa bongkahan pohon besar yang dibawa oleh banjir semalam. Landasan pacu Adventist Aviation Mission, hanggar pesawat. 1
unit pesawat dan helikopter yang parkir di hanggar juga terseret arus banjir sejauh ratusan meter hingga mencapai ruas jalan raya.

Lihat juga: Nahas, Agus Tewas Tertimpa Pohon yang Ditebangnya Sendiri
Banjir bandang
Banjir bandang di Sentani.

Perumahan warga yang berada di sekitar bandara itu juga rusak parah dan tertimbun pasir. BTN yang berdekatan dengan Polres Jayapura sebagian besar tertimbun lumpur dan pasir serta bongkahan pohon-pohon yang hanyut dari gunung di belakang RSUD Yowari. damqq

Rumah warga yang tinggal di daerah Kemiri sebagian besar tertimbun pasir hingga menenggelamkan setengah rumah. Pangkalan LANUD Jayapura, kantor dan perumahan mess perwira rusak parah serta tertimbun pasir.

Kantor Kelurahan Hinekombe rusak parah, terimbun pasir dan tertimpa pohon yang besar sehingga kantor nampak berantakan. Ruas jalan raya dari Doyo, Kemiri menuju sosial dan depan 751 Raider dipenuhi lumpur dan bongkahan kayu-kayu hutan.

Warga masyarakat berbondong-bondong penuhi jalan raya. Ada yang mencari keluarga mereka ada juga yang hanya datang untuk melihat kejadian luar biasa tadi malam. Para petugas dari TNI dan Polri serta LANUD Jayapura dan Masyarakat sedang bertugas mengatur arus lalulintas di Jalan raya, dan mengevakuasi korban.

Pagi ini, sudah ada 4 korban jiwa yang ditemukan di Kampung Doyo Baru, dan sedang dibawa ke RSUD Yowari.

Nahas, Agus Tewas Tertimpa Pohon yang Ditebangnya Sendiri

Ilustrasi
Saat kejadian, Agus bersama 2 rekannya tengah menebang pohon di salah satu distrik terjauh di Jayapura

Jakarta, K24News IndonesiaAgus Waris (35), warga Kampung Takwa Bangunan Sp Lima, Distrik Yapsi, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, tewas tertimpa pohon yang ditebangnya sendiri.

Kapolsek Kaureh, AKP Rozikin ketika dikonfirmasi mengatakan peristiwa nahas itu terjadi pada Jumat (15/3) siang.

Pihaknya baru memberikan informasi ke Polpres Jayapura pada Sabtu (16/3). Ini lantaran Distrik Yapsi adalah salah satu distrik terjauh di Kabupaten Jayapura dan aksesnya agak sulit.

Menurut Rozikin, kasus kecelakaan kerja hingga mengakibatkan Agus Waris meninggal dunia akibat tertimpa pohon yang ditebangnya tepatnya terjadi di Dusun Ripi Kampung Takwa Bangunan Sp Lima, Distrik Yapsi.

“Kemarin, Jumat (15/3), sekitar pukul 12.00 WIT siang. Korban yang bekerja sebagai karyawan kontrak/tukang sensor hendak memotong pohon guna pembersihan jalur aliran listrik program Indonesia Terang yang dikerjakan PT. Kabantaras yang bekerja sama dengan PLN,” katanya seperti dilansir dari Antara, Sabtu (16/3).

Kala itu Agus Waris bersama dengan rekan kerjanya atau saksi masing-masing Sedi (27) dan Jekson Mulait (37). Korban yang hendak memotong pohon menyuruh Sedi untuk ke jalan menjaga kendaraan yang hendak melintas. Korban pun sempat mengatakan kepada saksi Sedi, “awas saya mau balas sensor ke arah samping.”

Lihat juga: Imigrasi Timika Deportasi 12 Penambang Asal China Dan Korsel

Di saat bersamaan, pohon tumbang kemudian saksi Sedi memanggil-manggil korban dan tidak ada jawaban sehingga saksi mendatangi korban dan melihat korban sudah tergeletak di samping pohon yang ditebangnya.

“Melihat hal tersebut. aksi Sedi memanggil saksi Jekson Mulait (37) sehingga Jekson Mulait melaporkannya ke anggota kami yang berada di Pos Polisi Yapsi,” kata Rozikin.

Mendapat laporan itu, anggota kepolisian yang dipimpin Kanit Lantas Aipda Philipus Kokmesak menuju ke tempat kejadian perkara (TKP). Dan mengevakuasi korban ke rumahnya yang berada di Kampung Takwa Bangun SP Lima, Distrik Yapsi.

Dia menyebutkan, keluarga korban tidak mau di autopsi, mereka menerima hal tersebut sebagai musibah, sehingga korban langsung dimakamkan, Jumat sore.

Dia menambahkan, pihak perusahaan PT Kabantaras bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa korban dengan memberikan santunan dan lain-lain. Pihak PLN Jayapura juga berencana hari ini menuju ke rumah duka untuk bertemua keluarga korban.

Imigrasi Timika Deportasi 12 Penambang Asal China Dan Korsel

Imigrasi Timika

Imigrasi Timika Deportasi 12 Penambang Asal China Dan Korsel

Jakarta, K24News IndonesiaImigrasi Kelas II Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Mimika, Kabupaten Mimika, Papua mendeportasi 12 warga negara asing (WNA) yang bekerja sebagai penambang emas ilegal. Mereka dideportasi terkait penyelahgunaan izin tinggal.

Kedua belas WNA yang dideportasi terdiri atas 11 orang warga negara China, yakni Wu Jiming, Wu Jiang, Li Shihong, Li Changfu, Li Yuling Luo Yubing, Tang Gang, Ouyang Weishan, Gong Xiaojun, Wu Xiao Ming, Yang Enlong, dan 1 orang warga negara Korea Selatan Go Seong Yong.

Lihat juga: Polisi Sebut Istri Dan Anak Terduga Teroris Sibolga Tewas

Kepala Kantor Imgirasi TPI Mimika Jesaja Samuel Enoch di Timika, Rabu (13/3), mengatakan 12 WNA tersebut telah selesai menjalani hukuman pada Senin, 11 Maret 2019, sesuai surat lepas dari Lembaga Pemasyarakatan Nabire nomor W30.EH.PK.01.01.01-208-219.

Setelah itu mereka diserahterimakan dari Lapas Nabire kepada Kantor Imigrasi Kelas II TPI Mimika pada hari yang sama.

“Berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku maka Kantor Imigrasi Kelas II TPI Mimika melakukan pendeportasian ke negara asalnya melalui TPI Bandara Internasional Soekarno Hatta, dan nama yang bersangkutan dimasukkan ke dalam daftar penangkalan,” ujar Samuel seperti dikutip Antara.

Lihat juga:  Cara Rakyat Korea Utara Ikut Pemilu Legislatif Yang Hanya Punya ‘Satu Pilihan Kandidat’

Total ada 21 WNA melakukan tindak pidana keimigrasian menyalahgunakan izin tinggal, sesuai Pasal 112 huruf (a) UU RI No 6 Tahun 2011 tentang Keimgrasian.

“Mereka bekerja sebagai penambang emas ilegal di Kabupaten Nabire dan divonis bersalah sesuai putusan Pengadilan Negeri Nabire No. 100-102/Pid.Sus/PN.Nab tertanggal 12 Desember 2018, serta telah menjalani hukuman selama 5 bulan, 15 hari dan denda Rp10 juta,” ujarnya.

Sementara itu, 9 WNA lainnya masih menjalani sisa hukuman dan akan dideportasi setelah masa hukuman selesai.

“Mereka mendapat pemberatan hukuman karena terbukti memalsukan tempat tinggal dan perusahaan sehingga akan dideportasi setelah menjalani masa hukuman rata-rata 1 tahun lebih,” kata Samuel.

Lihat juga: Jasad WNI Korban Insiden Ethiopian Airlines Belum Ditemukan